Rasionalisme

PENDAHULUAN
Rasionalisme adalah faham filsafat yang menyatakan bahwa akal (renson) adalah alat penting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan. Alat jalan berfikir itu adalah kidah-kaidah logis.
Rasionalisme merupakan lawan dari empirisme yang mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan alam mengalami objek empiris, contoh yang paling jelas adalah pemahaman tentang logika dan matematika yang penemuan-penemuannya begitu pasti dan kebenarannya universal.
Rasionalisme sudah mulai diterapkan oleh Thales dalam filsafatnya dan pada zaman modern filsafat tokoh pertamanya adalah Descartes. Rasionalisme pada zaman modern filsafaat terutama dilihat sebagai reaksi terhadap dominasi gereja pada abad pertengahan Kristen di Barat.keistimewaan Descartes adalah keberaniannya melepaskan diri dari kerangkeng yang mengurung filosof abad pertengahan.
Corak utama pada filsafat modern adalah dianutnya kembali rasionalisme seperti pada masa Yunani Kuno dan gerakan pemikiran Descartes yang disebut bercorak renai sance.
Descartes dianggap sebagai bapak filsafat modern. Menurut Bertrand Russel, anggapan itu benar. Kata “bapak” diberikan kepada Descartes karena dialah orang pertama pada zaman modern itu yang membangun filsafat yang berdiri atas kenyakinan sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan akliah (Tafsir, 2003:128).
Descartes lahir di La-Haye Prancis pada tahun 1596. ia belajar di Jesuit College La Universitas Poitiers, tapi Descartes tidak pernah mampraktekannya.dari 1616 sampai 1628 Descartes banyak melakukan pengalaman dari satu negri ke negri lain. Ia masuk tiga dinas ketentaraan yang berbeda-beda (Belanda, Batavia dan Hanggaria).
Saat umurnya tiga puluh dua tahun Descartes menetap di Belanda selama tidak kurang daari dua puluh satu tahun. Dipilihnya Belanda karena Descartes menganggap bahwa Belanda lebih menyediakan kebebasan intelektual dibandingkan negri-negri lain.
KEPASTIAN DAN BATAS KERAGUAN
(Descartes Philosophical Writings)
Rene’ Descartes

Rene Descartes, semasa hidupnya telah memberikan kontrribusi penting terhadap perkembangan filsafat. Metode-metode yang dia kemukakan merupakan langkah awal lahirnya pemikiran filsafat modern. Pada saat itu, akhir abad pertengahan, dunia filsafat telah merosot perkembangannya. Diawali sejak penghujung zaman helenisme sampai kemudian memasuki abad pertengahan, agama, hati dan iman mendominasi, sedangkan akal sama sekali tidak berkutik.
Salah satu pemikiran filsafat yang berpengaruh saat itu adalah rumusan terkenal yang diungkapkan oleh Saint Anselmus dengan pernyataannya credo uz intelligam, kira-kira artinya adalah iman lebih dulu, setelah itu mengerti (Ahmad Tafsir, 1990:114).
Dalam ungkapan ini orang beriman bukan karena ia mengerti bahwa itu harus di imani, melainkan orang mengerti karena mengimaninya. Demikian tersebut tetap diyakini terutama oleh tokoh-tokoh gereja yang tetap percaya bahwa dasar filsafat adalah iman. Hal yang tidak mudah bagi descartes untuk melawannya, terbukti pada saat itu banyak tokoh-tokoh filsafat yang dihukum oleh pihak gereja.
Kemudian descartes hadir untuk menanamkan dasar filsafat yang baru yaitu akal. Untuk mendukung argumentasinya tesebut ia mengungkapkan metodenya yang terkenal tentang keraguan (Cartesian Doubt) atau yang lebih dikenal dengan cagito descartes akal yang ia gunakan untuk dasar filsafatnya, ia jadikan sebagai titik acuan awal pemikirannya.
Ia menuangkan metode-metodenya dalam karya-karya besarnya, karya pertama yagn ia tulis adalah Rules For The Direction Of The Under Standing pada tahun 1620 dan terbit pada tahun 1701. Le Monde pada tahun 1634. Discouvse On Method pada tahun 1637 bersama karya-karya scientific dan matematikanya. Meditation On Jiust Philoshofy, pada tahun 1641 dan Principles Of Philoshofy pada tahun 1644. serta tulisan-tulisan pilihan yang kemudian diterbitkan.
Tahap-tahap pemikiran Descartes untuk mancari kebenaran sejati dimulai dengan langkah-langkah yang menurut polos dan jernih. Kemudian ia meneliti sejumlah besar pendapat-pendapat yang keliru (menurutnya) yang umumnya sudah disepakati orang. Ia memulai dengan cara meragukan apa saja, meragukan kepercayaan, meragukan pendapat yang sudah berlaku, meragukan eksistensi alam diluar dunia dan bahkan meragukan eksistensinya sendiri. Tahap pertama ini juga merupakan langkah awal landasan cagito-nya. Ia berfikir setiap benda yang ia tahu melalui panca inderanya adalah benar-benar diragukan keberadaannya meskipun ia sendiri manyadari bahwa mungkin akal akan menipunya ("Meditation", In Descartes Philoshophikal Writing) bahkan ia meragukan apakah tangan dan tubuhnya itu adalah miliknya.
Kemudian berfikir bagaimana ia tahu bahwa ia tidak sedang tidur dan bermimpi. Karena antara keadaan sadar dengan mimpi tidak ada perbedaan atau batas yang benar-benar tegas dan jelas (distinct). Adakalanya seseorang akan merasa dalam keadaan sadar ketika ia sedang bermimpi atau berhalusinasi, karena pengalaman yang ia lami dirasakan benar-benar terjadi Descartes mencontohkan keadaannya sedang yang duduk dan berpakaian rapi, ia meragukan keadaannya tersebut karena ia pernah mengalaminya ketika bermimpi. Prinsipnya, Descartes berpendapat bahwa tidak ada perbedaan yang jelas antara sadar (keadaan) dan sedang mimpi.
Langkah selanjutnya Descartes kembali berpikir, adakah sesuatu (benda) yagn benar-benar ada yang tidak dapat diragukan lagi keberadaannya? Ia sendiri mengajukan tiga hal yaitu gerak, juumlah dam besaran (matematika /ilmu pasti). Namun ia kembali meragukannya karena ia kadang-kadang ia merasa salah ketika melakukan perhitungan. Dengan demikian, ilmu pasti pun ia ragukan. Ketika ia kembali berpikir, ia tetap meragukan setiap benda. Akhirnya mengambikl kesimpulan, bahwa ia ragu karena disebabkan oleh berfikir. Tidak mungkin ia ragu, jika tidak berpikir. Kemudian ia mengungkapkan, kalau begitu "aku berpikir" pasati aku dan benar. Jika "aku berpikir" ada . berarti "aku" ada sebab yang berpikir itu aku.
Metode inilah yang disebut cagito ergosum, aku berpikir karena itu aku ada.
Dari metode inilah Descartes membuat penerapan secara konkret sebagaiman dijelaskan Anton Bakker (1984:77), bahwa uraian filosafis menguraikan satu intuisi fundamental secara teratur Descartes menerapkannya untuk meembedakan dengan jelas antara jiwa dan badan, dan adanya Tuhan. Descartes menjelaskan konsepnya tentang jiwa dan badan atau pemikiran dan materi.
Diane Collison (2001:85), menjabarakan bahwa Descartes, menyimpulkan bahwa pikiran merupakan substansi non-ragawi yang berbeda dengan substansi material atau ragawi. Realisasi Descartes bahwa ia tidak dapat meragukan bahwa ia ada sebagai substansi berpikir, meskipun ia ragu bahwa ia memiliki raga, meyakinkannya bahwa pikiran dapat terpisah dan materi. Namun demikian ia tidak bisa memberika pemecahan yang memuaskan tentang bagaimana dua substansi, raga dan pikiran berinteraksi untuk membentuk satu kesatuan, oleh karena itu ia dengan jelas menolak gagasan Aristetolian tentang jiwa atau pikiran sebagai sesuatu yang menggerakkan raga.
Dari sifat keraguannya (skeptisisme), Descartes mendapat kepastian bahwa ia adalah sesuatu yang berpikir. Dari sinilah ia menjadikannya dasar untuk membangun pengetahuan. Argumennya tentang eksistensi Tuhan, dimulai dengan kesadaran akan dirinya sendiri sebagai yang ada, yang keraguannya tidak senpurna, namun mampu membuat gagasan tentang tuhan sebagai wujjud yang sempurna. Dan gagasan sempurna ini, menurutnya, hanya dapat berasal dari wujud yang sempurna; karena itu tuhan pasti ada sebagai sumbernya. Diane Collinson (2001:84).
Descartes pun mampu berargumen bahwa karena tuhan sempurna maka ia tidak akan mampu atau mambawa seseorang kepada kekeliruan dan bahwa pemakaian yang benar akan panca indera akan menghasilkan pengetahuan.metode keraguan ini dijadikan Descartes untuk mencari kepastian yang tersembunyi, keraguannya hanya di tujukan untuk menjelaskan perbedaan sesuatu yang dapat diragukan dari sesuatu yang tidak dapat diragukan.
Menurut Ahmad Tafsir (1990:132) dalam metode ini berjalan suatu metode yang tegas. Bila Descartes telah menemukan suatu ide yang distiact (jelas), mak ia dapat menggunakannya sebagai premise yang dari sana ia mendeduksi keyakinan lain yang juga distinct. Seluruh proses penyimpulan itu terlepas dari data empiris, keseluruhannya merupakan proses rasional.
Kesimpulan sementara yang dapat diambil, Descartes meneliti sesuatu berangkat dari keraguannya, dari keraguan tersebut ia mengetahui bahwa dasar pemikiran yang harus dipakainya adalah akal, hingga ia mendapatkan kepastian yang memuaskan dirinya. Namun rasionalisme yang ia kembangkan, meskipun berawal dari objektifitas telah menimbulkan subjektifisme dan relativisme.





















DAFTAR PUSTAKA


 Bakker, Anton 1984. Metode Metode Filsafat, Jakarta : Ghalia Indonesia.
 Collinson, Diane 2001. Seratus Puluh Filosof Dunia Yang Menggerakkan, terj. Ilzaenudin, Mufti Ali. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
 H. Hart, Michael 2001. Seratus Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah. Terj. Mahbub Djunaidi. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
 Tapsir, Ahmad. 2000. Filsafat Umum. Bandung: Remaja Rosda Karya.
 From Rene’ Descartes. “Meditations,” in Descartes Philosophical Writing, translade by Norman Kemp Smith, The Modern Library, New York, 1958.

0 Response to "Rasionalisme"

Poskan Komentar