Ciri Pemikiran Filsafat Abad Pertengahan

Ciri Pemikiran Filsafat Abad Pertengahan
Filsafat yunani telah mencapai kejayaannya sehingga melahirkan peradaban yunani
dan menjadikan titik tolak peradaban manusia di dunia. Filsafat yunani telah
menyebar dan mempengaruhi di berbagai bangsa dianataranya adalah bangsa Romawi,
karena Romawi merupakan kerajaan terbesar di daratan Eropa pada waktu itu. Bangsa
Romawi yang semula beragama kristen dan kemudian kemasukan filsafat merupakan
suatu formulasi baru yaitu agama berintegrasi dengan filsafat, sehingga munculah
filsafat Eropa yang tak lain penjelmaan dari filsafat Yunani.
Filsafat barat abad pertengahan (476-1492 M) bisa dikatakan abad kegelapan, karena
pihak gereja membatasi para filosof dalam berfikir, sehingga ilmu pengetahuan
terhambat dan tidak bisa berkembang, karena semuanya diatur oleh doktirn-doktrin
gereja yang berdasarkan kenyakinan. Apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang
bertentangan dari keyakinan para gerejawan, maka filosof tersebut dianggap murtad
dan akan dihukum berat samapai pada hukuman mati.
Secara garis besar filsafat abad pertengahan dapat dibagi menjadi dua periode
yaitu: periode Scholastic Islam dan periode Scholastik Kristen. Para Scholastic
Islamlah yang pertama mengenalkan filsafatnya Aristoteles diantaranya adalah Ibnu
Rusyd, ia mengenalkan kepada orang-orang barat yang belum mengenal filsafat
Aristoteles.
Para ahli fikir Islam (Scholastik Islam) yaitu Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-
Gazali, Ibnu Rusyd dll. Mereka itulah yang memberi sumbagan sangat besar bagi para
filosof eropa yang menganggap bahwa filsafat Aristoteles, Plato, dan Al-Quran
adalah benar. Namun dalam kenyataannya bangsa eropa tidak mengakui atas peranan
ahli fikir Islam yang mengantarkam kemoderenan bangsa barat.
Kemudian yang kedua periode Scholastic Kristen dalam sejarah perkembangannya dapat
dibagi menjadi tiga, Yaitu: Masa Scholastik Awal, Masa Scholastik Keemasan, Masa
Scholastik Terakhir.
Masa Scholastik Awal (Abad 9 - 12 M)
Masa ini merupakan kembagkitan pemikiran dari kungkungan gerejawan yang telah
membatasi berfilsafat, karena berfilsafat sangat membahayakan bagi agama Kristen
khususnya pihak gerejawan. Dan yang ditonjolkan dalam masa ini adalah hubungan
antara agama dengan filsafat karena keduanya tidak dapat dipisahkan, dan dengan
keduanya manusia akan memporoleh pengetahuan yang lebih jelas. Tetapi masa ini
filsafat masih bertumpu pada alam pikiran dan karya-karya kristiani.
Masa ini juga berdiri sekolah-sekolah yang menerapkan study duniawi meliputi: tata
bahasa, retorikaa, dialektika, ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan dan
musik. Sekolah yang mula-mula ada di biara Italia selatan ini akhirnya berpengaruh
ke daerah-daerah yang lain.
Masa Scholatik Keemasan (1200 – 1300 M)
Pada masa ini Scholastik mengalami kejayaan yang berlangsung dari tahun 1200-1300
M, disebut juga dengan masa yang berbunga dan bertumbuh kembang, karena muncul
banyak Universitas dan ordo-ordo yang menyelenggarkan pendidikan ilmu pengetahuan.
Ada beberapa faktor kenapa pada masa ini Scholastic mencapai keemasan. Pertama,
pengaruh dari Aristoteles dan ahli fikir Islam sejak abad ke 12 sehingga pada abad
ke 13 telah tumbuh ilmu pengetahuan yang luas. Kedua, berdirinya beberapa
Universitas. Dan yang ketiga munculnya ordo-ordo yang membawa dorongan kuat untuk
memberikan suasana yang semarak pada abad ke 13.
Pada masa ini juga ada sorang filofos Agustinus yang menolak ajaran Aristoteles
karena sudah dicemari oleh ahli fikir Islam, dan hal ini sangat membahayakan
ajaran Kristen, maka Abertus Magnus dan Thomas, sengaja menghilangkan unsure-unsur
atau selipan-selipan dari Ibnu Rusyd. Upaya Thomas Aquinas yang berhasil ini
sehingga menerbitkan buku yang berjudul Summa Theologie, yang merupakan bukti
kemenangan ajaran Aris Toteles deselaraskan dengan ajaran Kristen.
Masa Scholastik Akhir (1300 – 1450 M)
Masa ini ditandai denga kemalasan berfikir filsafat, sehingga menjadi stagnasi
pemikiran filsafat Scholasti Kristen, Nicolous Cusanus (1401-1404 M) adalah tokoh
yang terkenal pada masa ini, dan sebagai tokoh pemikir yang terakhir pada masa
Scholastik. Menurut pendaptnya terdapat tiga cara untuk mengenal, yaitu lewat
indera, dan kedua lewat akal, dan ketiga lewat intuisi. Dengan indera manusia
mendapatkan pengetahuan tentang benda-benda yang berjasad (sifatnya tidak
sempurna). Dengan akal manusia bisa mendapatkan bentuk yang abstrak yang telah
ditangkap oleh indera. Dan yang ketiga intuisi, dalam intuisi manusia akan
mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi, karena dengan intuisi manusia dapat
mempersatukan apa yang oleh akal tidak dapat dipersatukan. Karena keterbatasan
akal itu sendiri maka dengan intuisiah diharapkan sampai pada kenyataan, yaitu
Tuhan.

0 Response to "Ciri Pemikiran Filsafat Abad Pertengahan"

Poskan Komentar